Melihat Lynx yang berlari keluar mengejar Leena, Jelita hendak berlari menyusul, tetapi sebelum ia bisa bergerak, tangan Sun Fang mencengkeram lengannya erat.

"Kau mau ke mana?" bisik Sun Fang dengan nada licik. "Tuan Muda Huo masih ingin berbicara denganmu. Jangan pergi dahulu!"

Jelita mencoba menarik tangannya, tetapi genggaman Sun Fang cukup kuat. Wajahnya dipenuhi rasa jijik.

Jelita dengan kekuatannya yang sekarang sebagai forging qi tingkat satu, untuk melepaskan diri dari Sun Fang sangatlah mudah, namun karena karakternya dia yang baik dan belum terbiasa menggunakan kekuatannya, dia berusaha menahan diri.

Sementara itu, Lynx berlari keluar dari rumah makan, matanya menyapu setiap sudut jalan dengan penuh harapan.

"Leena!" serunya.

Namun, tidak ada jawaban.

Lynx segera menggunakan mengerahkan kekuatan kepekaannya, berusaha mencari jejak keberadaan Leena. Namun, jalanan penuh dengan orang-orang yang berlalu-lalang, riuh dengan suara percakapan dan aktivitas. Energinya tersebar ke terlalu banyak arah, membuatnya sulit menemukan sosok yang ia cari tanpa adanya ciri khusus.

Dahinya berkerut.

Benerkah Leena ada di sini. Ia mulai meragukan. Jika memang benar ada disini, ke mana dia menghilang?

Lynx mencoba lagi mengerahkan kekuatannya untuk menyusuri seluruh kota, namun tetap belum memberikan hasil seperti yang diinginkan.

Lynx masih berdiri di tengah jalan, matanya menyapu setiap sudut, mencoba mencari sosok yang disebutkan oleh Jelita. Namun, tidak peduli seberapa keras ia berusaha, tak ada tanda-tanda kehadiran Leena di antara kerumunan.

"Benarkah itu Leena? Atau hanya seseorang yang mirip?"

Sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, dua pria bertubuh kekar dengan pakaian pengawal mendekatinya dengan wajah garang.

"Kau!" Salah satu dari mereka menunjuk wajah Lynx dengan ekspresi penuh amarah. "Berani sekali kau memperlakukan Tuan Muda kami seperti itu!"

"Kau pikir siapa dirimu?" bentak yang lainnya. "Cepat berlutut dan minta maaf, atau kau akan menyesal!"

Lynx bahkan tidak melirik mereka. Kepalanya masih dipenuhi oleh satu hal, Leena.

Melihat Lynx mengabaikan mereka, wajah para pengawal itu semakin memerah karena marah.

"Kau tuli, hah?! Jangan berpura-pura tidak mendengar! Cepat, kamu harus kembali bersama kami untuk meminta maaf jika masih ingin hidup."

Namun, Lynx tidak peduli. Tanpa menghiraukan mereka, ia berbalik dan berjalan kembali ke rumah makan.

Para pelanggan yang masih terkejut karena insiden sebelumnya langsung menoleh saat melihat Lynx masuk kembali. Tatapannya tajam, mencari satu sosok, Jelita.

Dan di sana dia.

Jelita masih berada di tempatnya, wajahnya tegang. Sun Fang mencengkeram lengannya erat, senyum mengejek menghiasi bibirnya. Sementara itu, Huo Tao, yang bajunya kotor akibat makanan yang tumpah, tampak kesal, mengusap wajahnya dengan kain sambil melirik Jelita dengan penuh niat buruk.

Tanpa ragu, Lynx melangkah maju, menatap Sun Fang dengan tatapan tajam.

"Hei, lepaskan dia," ucapnya dengan nada tenang namun tegas.

Sun Fang mendengus, matanya menyala penuh tantangan saat ia semakin mengeratkan cengkeramannya. "Apa hakmu menyuruhku, hah?"

Huo Tao, yang menyaksikan kedatangan Lynx, menggertakkan giginya, menahan amarah yang membara. "Akhirnya kamu kembali lagi. Urusan kita belum selesai!"

Lynx tidak berbicara lagi. Dengan gerakan cepat dan tegas, ia meraih pergelangan tangan Sun Fang dan menariknya dengan kasar.

"Aaahh!" Sun Fang terkejut, cengkeramannya pada Jelita langsung terlepas.

Ia kehilangan keseimbangan, tubuhnya sedikit terhuyung, dan tanpa sengaja menginjak genangan sup yang tumpah di lantai.

Kres!

"Aaaaahhh!"

Tubuh Sun Fang jatuh ke belakang, dan kali ini—Bruk!—ia menimpa Huo Tao yang masih membersihkan dirinya dari kotoran akibat terjatuh sebelumnya.

"Uaaakhh!"

Huo Tao terjerembap kembali ke lantai, wajahnya membentur meja di belakangnya, membuat beberapa piring dan mangkuk bergoyang sebelum jatuh berantakan.

Para pelanggan yang melihat kejadian ini mulai terkekeh pelan, beberapa bahkan tertawa tanpa bisa menahan diri.

Sementara itu, Lynx tetap tak peduli. Ia menatap Jelita dan bertanya, "Benar kau melihat Leena?"

Jelita masih tampak ragu-ragu. Ia mengangguk perlahan. "Aku... aku tidak tahu pasti. Tapi wanita itu benar-benar mirip Leena. Hanya saja, pakaiannya sangat berbeda. Dia terlihat lebih anggun... lebih mempesona."

Lynx terdiam, pikirannya berputar. Bisa saja itu hanya kebetulan, seseorang yang memiliki kemiripan dengan Leena. Tapi firasatnya mengatakan ini bukan hal biasa. Namun jika benar Leena ada di kota ini, dia harus menemukannya.

Sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, sebuah tangan besar tiba-tiba menarik kerah bajunya dari belakang.

"Berhenti mengabaikan kami, dasar bocah sombong!" Salah satu pengawal Huo Tao mencengkeramnya dengan kasar. "Tuan Muda kami belum selesai denganmu!"

"Kamu sudah berani menyakiti tuan muda Huo Tao." Kata pengawal yang lainnya.

Lynx baru menyadari keadaan sekitar. Ia menoleh, dan pemandangan yang dilihatnya hampir membuatnya tertawa terbahak-bahak.

Huo Tao masih terduduk di lantai, wajahnya merah padam karena amarah dan malu. Huo Tao  yang sudah berdiri tadi kini kembali terjatuh, kali ini lebih menyedihkan dan terlihat memalukan karena Sun Fang berada di atasnya dengan posisi yang ambigu.

Lynx terkekeh pelan. Senyum sinis muncul di wajahnya.

Melihat itu, Huo Tao semakin murka. Dengan gerakan kasar, ia mendorong Sun Fang menjauh dan bangkit berdiri. Wajahnya merah seperti kepiting rebus.

"Kau berani menertawakanku?!" geramnya. "Baik! Kau sudah melewati batas!"

Huo Tao mengangkat tangannya, memberi isyarat pada para pengawalnya. "Hajar dia sampai dia tahu siapa yang berkuasa di kota ini!"

Dua pengawal yang mencengkeram Lynx langsung mengangkat tinju mereka, siap menghajarnya.

Namun, sebelum mereka mulai bergerak, Huo Tao melangkah lebih dekat ke Jelita. Matanya yang dipenuhi nafsu membuat gadis itu merinding.

"Aku akan memberimu pilihan, Nona," katanya dengan seringai licik. "Temani aku malam ini... atau pria lusuh yang bersamamu ini akan pulang dengan tubuh penuh luka. Bagaimana?"

Jelita menegang. Mata gadis itu melebar, wajahnya dipenuhi rasa jijik dan kemarahan yang bercampur menjadi satu.

Para pelanggan yang melihat adegan ini hanya bisa membisu. Tidak ada yang berani ikut campur dalam urusan keluarga kaya seperti Huo Tao.

Mendengar kata-kata Huo Tao yang mulai berani terang-terangan, senyuman Lynx memudar. Tatapannya berubah dingin.

Dan dalam hatinya, ia tahu... sekarang, ia benar-benar marah.

Keributan di lantai satu menarik perhatian banyak orang, termasuk seorang wanita anggun yang baru saja turun dari lantai tiga. Ia memiliki wajah cantik dengan kulit halus yang terawat, tampak lebih muda dari usianya yang sebenarnya. Gaun panjangnya yang elegan menambah pesona yang tak terbantahkan.

Chen Xue, pemilik rumah makan Paviliun Seribu Rasa, melangkah dengan tenang, namun tatapan matanya tajam saat melihat Huo Tao dan para pengawalnya yang tampak marah, serta Lynx yang masih berdiri santai dengan ekspresi acuh tak acuh.

"Apa yang terjadi di sini?" Suaranya lembut namun penuh wibawa, membuat suasana yang semula ribut perlahan mereda.

Sun Fang segera bergerak menghampirinya. "Bos! Pemuda ini membuat keributan! Dia berani mendorong Tuan Muda Huo dan bahkan menertawakannya!"

Chen Xue menoleh ke arah Lynx dan Jelita. Ia tahu betul siapa Huo Tao—seorang pelanggan tetap yang selalu menghamburkan uang di rumah makannya. Jika harus berpihak, jelas lebih menguntungkan baginya untuk mendukung Huo Tao.

Namun, sebelum ia berbicara, matanya menangkap sesuatu yang menarik.

Di pakaian pemuda itu, tepatnya di pinggang, terselip sebuah plakat keemasan dengan ukiran unik yang hanya dikenalnya dari satu orang, Komandan Jiang. Setelah menerima plakat pengenal dari Komandan Jiang, Lynx tidak menyimpannya di cincin penyimpanan, tetapi di ikatkan di pinggangnya dan diselipkan ke pakaian, agar jika dia memerlukannya, dia bisa mengeluarkannya dengan mudah tanpa harus menarik perhatian, selain itu Lynx berencana memberikan plakat itu untuk dibawa oleh Jelita untuk berjaga-jaga. Karena Lynx sangat memahami pentingnya sebuah perlindungan dan koneksi dari nama besar untuk menghindari masalah yang tidak perlu.

"Komandan Jiang?"

Jantung Chen Xue berdegup lebih cepat. Jika pemuda ini memiliki plakat itu, berarti ada kemungkinan dia memiliki hubungan dengan salah satu orang paling berpengaruh di kota Houling.

